Sastra adalah seni, seni dalam hidupku dan hidupmu :)

Minggu, 09 Juni 2013

Sastra Melayu



A.  Sastra Melayu

Sastra Melayu adalah sastra yang hidup pada era melayu tradisional, yaitu masyarakat yang masih sederhana dan terikat oleh adat istiadat. Pada umunya, Sastra Melayu bersifat verbalisme, yakni ujaran dari mulut ke mulut. Hal ini berdampak pada pemaknaan penerima ujaran tersebut. Banyak versi yang lahir karena fenomena ini. Sastra Melayu terbagi atas dua jenis, yaitu sastra melayu klasik dan sastra melayu modern. Pembeda keduanya berasal dari segi bahasa yang dipergunakan. Sastra Melayu klasik masih menggunakan bahasa melayu pasar.
Nama bahasa Melayu itu terbit dari bangsa yang bernama Melayu. Orang yang berbahasa Melayu itu menggunakan bahasanya yaitu bahasa yang termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Sejarah perkembangan bahasa Melayu serta sastranya dapat dibagi mengikuti zaman politiknya, seperti zaman Sriwijaya, Majapahit, Malaka, dan sebagainya, mengikuti zaman perkembangan kebudayaannya seperti pengaruh Hindu, Islam, dan Barat.
Kedatangan orang Farsi ke  alam melayu menyebabkan berlakunya pembukaan perkampungan, dan perkampungan itu kebanyakan diberi nama bahasa Farsi. Pengaruh bahasa Farsi dalam bentuk karya sastra memainkan peranan penting dalam bahasa dan kesusteraan Melayu. ‘ Manthra” adalah salah satu bahasa Farsi yang berarti suci.
Sastra Melayu berkembang di daerah Sumatera Timur di antaranya yang masih ada adalah keluarga Sultan Deli dengan istana dan mesjidnya yang megah, dan adapula legenda yang mengisahkan tentang kerajaan Deli. Legenda yang sangat popular adalah legenda tentang Putri hijau. Berdasarkan cerita Putri Hijau, adapun syairnya :

1.      Keterangan pertama saya membagi,
Sebuah pancuran tempatnya mandi,
Sampai sekarang tinggallah sendi,
Di Deli Tua adalah lagi
2.      Keterangan kedua lagi suatu,
Meriam puntung asalnya ratu,
Di istana Maimun tempatnya itu,
Rumahnya ijuk, berlantai batu
3.      Keterangan ketiga konon kabarnya,
Seekor naga yang amat besarnya,
Di Deli Mij, tempat lalunya,
Sampai sekarang ada bekasnya.

Ciri-ciri Teks Sastra Melayu Berdasarkan Penggolongan Bentuknya
v  Puisi
Sastra Melayu dalam bentuk puisi yang pertama berbentuk mantera, pantun, dan  syair. Kemudian, bermunculan pantun kilat (karmina), seloka, talibun, dan gurindam. Gurindam  12 karya Raja Ali Haji merupakan salah satu gurindam yang terkenal pada zaman sastra melayu klasik.
v  Prosa
Pada ragam karya sastra prosa, Sastra Melayu yang pertama berbentuk cerita-cerita pelipur lara, dan dongeng-dongeng. Dongeng meliputi legenda, sage, fabel, parabel, mite, dan cerita jenaka atau orang-orang malang/pandir.Bahkan, ragam karya sastra melayu ada yang berbentuk hikayat, tambo, cerita berbingkai, dan wiracarita (cerita panji). Pada cerita dongeng sering isinya mengenai cerita kerajaan (istanasentris) dan fantastis. Kadang-kadang cerita tersebut di luar jangkuan akal manusia (pralogis).
   
 Sastra melayu klasik yang terpengaruhi  perkembangan asing
Sastra melayu klasik dibagi dalam tiga zaman, yaitu zaman sastra melayu asli, sastra Hindu, dan sastra Islam.
a.       Sastra Melayu Asli.
Sastra melayu asli adalah suatu golongan cerita yang hidup dan berkembang secara turun temurun (Cerita Rakyat). Cerita ini dapat dianggap sebagai karya sastra taraf permulaan. Contohnya adalah Mantra, Peribahasa, Pantun, Teka-teki, Cerita Binatang, Cerita Asal-usul, Cerita Jenaka, dan Cerita Pelipur Lara. Sastra melayu asli terdapat cerita “Kancil sebagai cerita binatang” dan “Pak Pandir sebagai cerita jenaka” yang sangat beragam versinya.
b.      Sastra Hindu
Pengaruh Hindu di nusantara sudah sejak lama. Menurut ahli sejarah sastra, yang menyebarkan agama Hindu di Melayu adalah para Brahmana. Mereka diundang oleh raja untuk meresmikan yang menjadi ksatria.

           Ramayana : cerita Ramayana sudah dikenal lama di Nusantara. Pada zaman pemerintahan Raja Daksa (910-919) cerita rama diperlihatkan di relief-relief Candi Loro Jonggrang. Pada tahun 925 seorang penyair telah menyalin cerita Rama ke dalam bentuk puisi Jawa yaitu Kakawin Ramayana. Lima ratus tahun kemudian cerita Rama dipahat lagi sebagai relief Candi Penataran. Dalam bahasa melayu cerita Rama dikenal dengan nama Hikayat Sri Rama yang terdiri atas 2 versi : 1) Roorda van Eysinga (1843) dan W.G. Shelabear.
           Mahabarata : Bukan hanya sekedar epos tetapi juga sudah menjadi kitab suci agama Hindu. sastra melayu Mahabarata dikenal dengan nama Hikayat Pandawa sastra jawa pengaruh Mahabarata paling tampak dari cerita wayang.

c.       Sastra Islam
Kemunculan agama Islam untuk yang pertama kalinya di nusantara sangat mempengaruhi kesusastraan Melayu Klasik, terlihat dari adanya ungkapan atau pribahasa bijak yang kerap kali muncul di khalayak masyarakat. Misal: Annadhofatu minal imaan artinya Kebersihan sebagian dari iman, kecantikan hati lebih baik dari pada cantik rupa, Kejantanan seseorang tak dapat diukur dengan seberapa banyak botol minuman yang ia habiskan, tak dapat diukur pula dengan seberapa banyak rokok yang ia habiskan, dan juga tak dapat diukur dengan seberapa banyak dia melakukan hubungan badan, kejantanan seseorang dapat diukur dengan seberapa kuatnya dia menghadapi masalah yang perlu penyelesaian dengan imannya.
Pengakulturasian antara budaya arab dengan budaya pribumi juga menghasilkan ragam naskah, karya Ar-Raniri, Hamzah Fansuri, dll. Naskah-naskah tersebut biasanya berisikan ajaran tentang fiqih, tauhid, dan tasauf, sering kali dalam bentuk Tanya jawab, puisi, dan prosa.
Dalam perkembangannya, sastra melayu klasik yang terpengaruhi budaya arab dikenal dengan istilah “Pegon”.Pegon merupakan perpaduan bahasa arab dengan bahasa jawa yang memiliki cirri khas yang telah menyimpang dari bahasa baku, yaitu terdapat larik-larik terjemahan atau interpretasi tentang bahasa arabnya. Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan dalam memahami ajaran-ajaran Al quran dan hadits. Sebut saja Abdul Rauf, dialah orang pertama yang menterjemahkan al quran bahasa melayu pada abad ke-17, kemudian berikutnya disusul dengan Abdal Samad yang mampu menterjemahkan karya Al-Ghazali, Ihya ulum al-din.
Naskah-naskah yang tertua ialah yang ditulis dalam tulisan budha atau gunung yang berisi informasi tentang bentuk agam Islam yang dianut masyarakat pada awal agama Islam di Indonesia. Dalam sastra klasik, pengaruh ini terutama tampak dalam sastra keagamaan dan cerita kepahlawanan. Di samping itu, pengaruh struktur kalimat juga menyebabkan terciptanya kata-kata baru sebagai padanan suatu kata dalam kalimat yang diterjemahkan dari bahasa Arab.

  1. PEMBAGIAN SASTRA LAMA BERDASARKAN BENTUKNYA

PROSA LAMA

1.       Dongeng
Dongeng adalah prosa cerita yang isinya hanya khayalan saja, hanya ada dalam fantasi pengarang.
Dongeng dibedakan menjadi:
a.       Fabel:
Dongeng tentang kehidupan binatang. Dongeng tentang kehidupan binatang ini dimaksudkan agar menjadi teladan bagi kehidupan manusia pada umumnya.  Menurut buku karangan Hartoko Dick dan B.Rahmanto yang dimaksud fabel adalah cerita singkat, sering dalam bentuk sajak, yang bersifat didaktis bertepatan dengan contoh yang kongkret. Tumbuh-tumbuhan dan hewan ditampilkan sebagai makhluk yang dapat berpikir, bereaksi, dan berbicara sebagai manusia. Diakhiri dengan sebuah kesimpulan yang mengandung ajaran moral.
b.       Farabel:  
Dongeng tentang binatang atau benda-benda lain yang mengandung nilai pendidikan. Binatang atau benda tersebut merupakan perumpamaan atau lambang saja. Peristiwa ceritanya merupakan kiasan tentang pelajaran kesusilaan dan keagamaan.
c.        Legenda:
Dongeng yang dihubungkan dengan keajaiban alam, terjadinya suatu tempat, dan setengah mengandung unsur sejarah.
d.       Mite:       
Dongeng yang berhubungan dengan cerita jin, peri, roh halus, dewa, dan hal-hal yang berhubungan dengan kepercayaan animisme.
e.       Sage:   
Dongeng yang mengandung unsur sejarah meskipun tidak seluruhnya berdasarkan sejarah. Menurut buku karangan Hartoko Dick dan B. Rahmanto, kata sage berasal dari kata jerman “was gesagt wird” yang berarti apa yang diucapkan, cerita-cerita alisan yang intinya historis, terjadi di suatu tempat tertentu dan pada zaman tertentu. Ada yang menceritakan tentang roh-roh halus, mengenai ahli-ahli sishir, mengenai setan-setan atau mengenai tokoh-tokoh historis. Selalu ada ketegangan antara dunia manusia dan dunia gaib. Manusia selalu kalah. Nada dasarnya tragis, lain daripada dongeng yang biasanya optimis.

2.       Hikayat
Kata hikayat berasal dari bahasa Arab yang artinya cerita. Hikayat adalah cerita yang panjang yang sebagian isinya mungkin terjadi sungguh-sungguh, tetapi di dalamnya banyak terdapat hal-hal yang tidak masuk akal, penuh keajaiban. (Dick hartoko dan B. Rahmanto memberikan definisi hikayat sebagai jenis prosa cerita Melayu Lama yang mengisahkan kebesaran dan kepahlawanan orang-orang ternama, para raja atau para orang suci di sekitar istana dengan segala kesaktian, keanehan dan muzizat tokoh utamanya, kadang mirip cerita sejarah atau berbentuk riwayat hidup.
3.       Tambo
Tambo adalah cerita sejarah, yaitu cerita tentang kejadian atau asal-usul keturunan raja.

4.       Wira Carita (Cerita Kepahlawanan)
Wira carita adalah cerita yang pelaku utamanya adalah seorang kesatria yang gagah berani, pandai berperang, dan selalu memperoleh kemenangan.

B. PUISI LAMA
Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain :
  • Jumlah kata dalam 1 baris
  • Jumlah baris dalam 1 bait
  • Persajakan (rima)
  • Banyak suku kata tiap baris
  • Irama

Jenis-jenis puisi lama

1.       Mantra
Mantra adalah kata-kata yang mengandung hikmat dan kekuatan gaib. Mantra sering diucapkan oleh dukun atau pawang, namun ada juga seorang awam yang mengucapkannya.

Ciri-ciri:
  • Berirama akhir Abc-Abc Abcd-Abcd, Abcde-Abcde.
  • Bersifat lisan, sakti atau magis
  • Adanya perulangan
  • Metafora merupakan unsur penting
  • Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan misterius
  • Lebih bebas dibanding puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan persajakan.

2.       Bidal.
Bidal adalah pepatah atau peribahasa dalam sastra Melayu lama yang kebanyakan berisi sindiran, peringatan, nasihat, dan sejenisnya. yang termasuk dalam kategori bidal adalah
a.      Ungkapan, yaitu kiasan tentang keadaan atau kelakauan yang dinyatakan dengan sepatah atau beberapa patah kata.
b.     Peribahasa , yaitu kalimat lengkap yang mengungkapkan keadaan atau kelakuan seseorang dengan mengambil perbandingan dengan alam sekitar.
c.      Tamsil, yaitu seperti perumpamaan tetapi dikuti bagian kalimat yang menjelaskan.
d.     Ibarat, yaitu seperti perumpamaan dan tamsil tetapi diikuti bagian yang menjelaskan yang berisi perbandingan dengan alam.
e.      Pepatah, yaitu kiasan tetap yang dinyatakan dalam kalimat selesai.
f.      Pemeo, yaitu ucapan yang terkenal dan diulang-ulang, berfungsi sebagai semboyan atau pemacu semangat.

3.       Pantun
Pantun ialah puisi lama yang terikat oleh syarat-syarat tertentu (jumlah baris, jumlah suku kata, kata, persajakan, dan isi).
Ciri-ciri pantun adalah
a.      Pantun terdiri dari sejumlah baris yang selalu genap yang merupakan satu kesatuan yang disebut bait/kuplet.

b.     Setiap baris terdiri dari empat kata yang dibentuk dari 8-12 suku kata (umumnya 10 suku kata).

c.      Separoh bait pertama merupakan sampiran (persiapan memasuki isi pantun), separoh bait berikutnya merupakan isi (yang mau disampaikan).
d.     Persajakan antara sampiran dan isi selalu paralel (Ab-Ab atau Abc-Abc atau Abcd-Abcd atau Aa-Aa)
e.      Beralun dua
Berdasarkan bentuk/jumlah baris tiap bait, pantun dibedakan menjadi:
a.      Pantun biasa, yaitu pantun yang terdiri dari empat baris tiap bait.
b.     Pantun kilat/karmina, yiatu pantun yang hanya tersusun atas dua baris.
c.                          Pantun berkait, yaitu pantun yang tersusun secara berangkai, saling mengkait antara bait pertama dan bait berikutnya.
d.                         Talibun, yaitu pantun yang terdiri lebih dari empat baris tetapi selalu genap jumlahnya, sebagian merupakan sampiran, dan sebagian lainnya merupakan isi.
e.                          Seloka, yaitu pantun yang terdiri dari  empat baris sebait tetapi persajakannya datar (Aaaa).
4.       Gurindam
Gurindam adalah puisi lama yang terdiri dari dua baris satu bait, kedua lariknya merupakan kalimat majemuk yang selalu berhubungan menurut hubungan sebab-akibat. Baris pertama merupakan syaratnya sedangkan baris kedua merupakan jawabannya. Gurindam berisi petuah atau nasehat. Gurindam muncul setelah timbul pengaruh kebudayaan Hindu.
5.       Syair
Kata syair berasal dari bahasa Arab syu’ur yang artinya perasaan. Syair timbul setelah terjadinya pengaruh kebudayaan Islam. Puisi ini terdiri dari empat baris sebait, berisi nasihat, dongeng, dan sebagian besar berisi cerita. Syair sering hanya mengutamakan isi.
          

  Ciri-ciri syair
a.      terdiri dari empat baris
b.     tiap baris terdiri dari 4-5 kata (8-12 suku kata)
c.      persamaan bunyi atau sajak akhir sama dan sempurna
d.     tidak ada sampiran, keempatnya merupakan isi
e.      terdiri dari beberapa bait, tiap bait berhubungan
f.      biasanya berisi cerita atau berita.

6.       Karmina
Ciri-ciri karmina
  • Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan.
  • Bersajak Aa-Aa, Aa-Bb
  • Bersifat epik: mengisahkan seorang pahlawan.
  • Tidak memiliki sampiran, hanya memiliki isi.
  • Semua baris diawali huruf kapital.
  • Semua baris diakhiri koma, kecuali baris ke-4 diakhiri tanda titik.
  • Mengandung dua hal yang bertentangan, yaitu rayuan dan perintah.

      8.     Seloka
Ciri-ciri seloka :
  • Ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair,
  • Namun ada seloka yang ditulis lebih dari empat baris.

Selain berdasarkan bentuk dan isi, sastra melayu pun memiliki ciri khusus lainnya, yaitu :

  1. Nama penciptanya tidak diketahui ( anonim )
Alasan para pencipta tidak mencantumkan nama pada karyanya disebabkan oleh beberapa alasan. Salah satunya adalah kondisi masyarakat tradisional yang masih terikat adat istiadat yang begitu laten memungkinkan terjadinya gangguan kepada diri pencipta jika karyanya bertentangan dengan adat istiadat, baik disengaja maupun tidak disengaja. Selain itu, sastra melayu klasik sudah menjadi bagian dari masyarakat, atau bisa dibilang sastra adalah masyarakat tersebut sehingga penciptanya tidak bisa mem-personal-kan dirinya sebagai pencipta tunggalnya.
  1. Bersifat prologis, mempunyai logika tersendiri yang tidak sesuai dengan logika umum
Teks sastra melayu klasik diciptakan dalam imajinasi penciptanya sendiri sehingga memungkinkan terjadinya pertentangan logika dengan pemikiran yang sudah ada di masyarakat.
  1. Berkembang secara statis dan mempunyai rumus yang baku.
Misalnya, dalam prosa, menggunakan kata-kata SAHIBUL HIKAYAT, HATTA, dan KONON. Berkembang statis berarti mengalami perkembangan yang lamban. Hal ini disebabkan oleh adat istiadat yang sudah tertanam dalam masyarakat, sehingga sulit untuk menerima unsur-unsur baru diluar adat istiadatnya. Selain itu, tidak adanya karya-karya baru. Hanya merubah dari karya-karya lama. Teks sastra melayu klasik pun mempunyai rumus yang baku. Hal ini bisa diliat dalam puisi lama. Contohnya, pantun terikat oleh rima, jumlah suku kata yang sudah baku.
  1. Cerita berkisar kehidupan kerajaan atau kaum bangsawan.
Sastra yang lahir pada zaman itu diciptakan tangan-tangan bangsawan ataupun kaum intelektual. Hal ini yang menyebabkan sastra-sastra zaman itu sebagian besar berkisah tentang kerajaan ataupun kisah para bangsawan karena sesuai dengan pemahaman hidup penciptanya.
  1. Berbahasa Klise.
 Pada zaman itu, sastra mempergunakan ungkapan tradisional dan mempunyai kalimat yang pembukaan dan penutup yang sama.

Sastra Minang



A. Asal Nama  Minangkabau 
Nama Minangkabau berasal dari dua kata, minang dan kabau. Nama itu dikaitkan dengan suatu legendakhas Minang yang dikenal di dalam tambo.Tambo Minangkabau  adalah karya sastra sejarah yang merekam kisah-kisah legenda-legenda yang berkaitan dengan asal-usul suku bangsa, negeri dan tradisi dan alam Minangkabau. Tambo Minangkabau ditulis dalam bahasa Melayu yang  berbentuk prosa. Tambo berasal  dari bahasa Sanskertatambay yang artinya bermula.
Dalam tradisi masyarakat Minangkabau, tambo merupakan suatu warisan turun-temurun yang disampaikan secara lisan. Kata tambo atau tarambo dapat juga bermaksud sejarah, hikayat atau riwayat. Maknanya sama dengan kata babad dalam bahasa Jawa atau bahasa Sunda.Penulisan tambo Minangkabau, pertama kali dijumpai dalam bentuk aksara Arab dan berbahasa Minang. Sedangkan penulisan dalam bentuk latin baru dikenal pada awal abad ke-20, yang isinya sudah membandingkan dengan beberapa bukti sejarah yang berkaitan.
Naskah tambo Minangkabau sebagian besar ditulis dengan huruf Arab-Melayu (huruf Jawi), dan sebagian kecil ditulis dengan huruf Latin. Jumlah naskah yang sudah ditemukan adalah 83 naskah. Judulnya bervariasi, antara lain Undang-Undang MinangkabauTambo AdatAdat Istiadat Minangkabau,Kitab Kesimpanan Adat dan Undang-UndangUndang-Undang Luhak Tiga Laras, dan Undang-Undang Adat.
Tambo di Minangkabau secara garis besar dibagi dua bagian utama: 
·         Tambo alam, yang mengisahkan asal usul nenek moyang serta tentang kerajaan Minangkabau.
·         Tambo adat, yang mengisahkan adat, sistem pemerintahan, dan undang-undang tentang pemerintahan Minangkabau di masa lalu.
Penyampaian kisah pada tambo umumnya tidak tersistematis, sementara kisahnya kadang kala disesuaikan dengan keperluan dan keadaan, sehingga isinya dapat berubah-rubah menurut kesenangan pendengarnya.

Namun demikian pada umumnya Tambo Minangkabau adalah karangan saduran, oleh sipenyadur tidak menyebutkan sumbernya sehingga seolah-olah merupakan hasil karyanya. Ada 47 buah tambo asli Minangkabau yang tersimpan di berbagai perpustakaan di luar negeri, 10 diantaranya ada di Perpustakaan Negara Jakarta, satu sama lainnya merupakan karya saduran tanpa di ketahui nama asli pengarangnya.
Dalam bahasa Minangkabau di Provinsi Jambi terdapat adanya variasi. Variasi tersebut ditemukan, baik dalam bidang fonologi, morfologi, maupun leksikon. Secara geografis, variasi-variasi tersebut muncul dan digunakan di daerah tertentu. Berdasarkan analisis unsur fonologis, di Provinsi Jambi ditemukan 20 unsur yang memperlihatkan adanya variasi. Berdasarkan analisis unsur morfologis, ditemukan 5 unsur yang memperlihatkan adanya variasi, sedangkan berdasarkan analisis unsur leksikal, bahasa Minangkabau di Provinsi Jambi juga memperlihatkan adanya unsur-unsur yang bervariasi. Berdasarkan jumlah variasi unsur leksikal ini, bahasa Minangkabau di Provinsi Jambi dapat dikelompokkan atas 2 dialek, yaitu dialek Minangkabau Jambi (MJ) dan dialek Karanganyar (Ka).
Setelah dialek dari masing-masing daerah dilihat hubungannya dengan dialek bahasa Minangkabau yang ada di Sumatera Barat, dapat disimpulkan bahwa dialek MJ (kecuali TP 18, 19, dan 20), termasuk satu kelompok dialek dengan dialek Kotobaru (Kb) yang ada di Sumatera Barat. Terbentuknya dialek-dialek tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain: faktor asal-usul (daerah asal), faktor geografis, dan faktor perhubungan.
Secara histori sosiologi sastra lahir dengan adanya kelemahan analisi struktur. Dengan mengembalikannya pada masyarakat, maka simbol-simbol akan memperoleh kekuatan, validitas, sekaligus objektivitas. Tema karya-karya sastra para pengarang Balai Pustaka jelas dikondisikan oleh masyarakat Minangkabau, dengan penokohan dan kejadian yang cenderung mengikuti pola-pola cerita lama seperti hikayat, dilukiskan dengan menggunakan kalimat-kalimat panjang, dan seterusnya.


B. Sastra Minangkabau
Sastra Minangkabau adalah sastra yang hidup dan dipelihara dalam masyarakat Minangkabau, baik lisan maupun tulisan.
Jenis Sastra Minangkabau :
1.      Puisi
Puisi dalam sastra Minangkabau dapat digolongkan dalam beberapa jenis yaitu:  mantra , pantun, talibun, pepatah-petitih, dan syair.

·         Mantra
Mantra adalah puisi yang tertua dalam sastra Minangkabau dan dalam berbagai bahasa daerah lainnya. Mantra dalam kesusastraan Minagkabau, menjelaskan bahwa mantra masih digunakan oleh dukun / pawang. Dalam sastra mMinangkabau ini, mantra dapat digunakan pada waktu pembangunan rumah, mengobati orang sakit, dan juga pada saat menuai padi di sawah.
Contoh :
·         Mantra menuai Padi
           
                         Silansari – bagindo sari
                        Silansari banyak – sari bagadun
                        Angkau banamo – banyak namo
                        Si lansari – ka aku tuai
                        Urang kinari – pai barameh
                        Urang singakarak – pai mandulang
                        Si lansari aku – jaanlah cameh
                        Ka ku tuai – ku bao pulang
                        Hai silansari – bagindo sari
                        Molah kito – pulang ka rumah
                        Sarato jo rajo – rajo angkau
                       
·         Pantun
Pada umumnya pantun sudah dikenal terdiri dari 4 baris, bersajak ab-ab, dua baris awal berupa sampiran, dan dua baris akhir berupa isi.
Contoh :
            Baburu ka padang data
              Dapeklah ruso balang kaki
              Baguru kapalang aja
              Bak bungo kambang tak jadi

·         Talibun
Talibun banyak persamaannya dengan pantun, talibun terdiri atas 6 barisdalam suatu kalimat atau ungkapan yang mengandung pengertian baris, bersajak abc-abc, tiap baris awal berupa sampiran, dan tiga baris akhir berupa isi.
Contoh:
            Panakiak pisau sirauik
             Ambiak galah batang lintabuang
             Silodang ambiak ka niru
             Nan satitiak jadikan lauik
             Nan sakapa jadikan gunuang
             Alam takambang jadikan guru

·         Pepatah – Petitih
Pepatah-petitih adalah suatu kalimat atau ungkapan yang mengandung pengertian yang dalam, luas, tepat, halus, dan hiasan. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan watak masyarakat Minangkabau yang lebih banyak menyampaikan sesuatu secara sindiran. Kemampuan memahami sindiran dianggap pula sebagai ciri kearifan.
Fungsi utama pepatah-petitih adalah nasihat.
Contoh :
            Duduk marauk ranjau, tagak maninjau jarak

·         Syair
Syair juga terdapat dalam sastra Minangkabau. Syair adalah puisi yang terdiri atas 4 baris, bersajak aaaa, dan keempat barisnya berupa isi.
Contoh :
            Rebab pesisir Malinkundang
           
            Curito kajadian diranah Minang
            Iyo hikayat Malin Kundang
            Awak layia Bapak bapulang
            Mande lah tingga jo rang bujang
                        O sajak mudo (diek oi )bapaknyo mati
                        Iduik mande mancari kayu api
                        Anak dibao pagi- pagi
                        Ka dalam rimbo kayu dicari
            Pergi pagi pulanglah petang
            Kalau untung dapat beras segantang
            Untuk pembeli cabe dan bawang
            Begitu nasib ibu Malin Kundang

2.      Prosa
Jenis sastra Minangkabau yang tergolong prosa terdiri atas curito (cerita), kaba, undang-undang, dan tambo. Berikut ini akan dijelaskan satu per satu, yaitu:
A.    Curito
Curito (cerita) merupakan cerita yang pendek, sederhana. Isinya bersifat dongeng dan bahsanya bahasa prosa biasa, bukan prosa berirama seperti dalam kaba.
·         Dongeng
Dongeng adalah cerita yang dipercayai tidak pernah terjadi atau cerita khayalan semata.
·         Legenda
Cerita yang tergolong legenda dalam sastra rakyat Minangkabau tidak begitu banyak.



B.     Kaba
            Kaba adalah cerita prosa yang berirama, berbentuk narasi(kisahan) dan tergolong cerita panjang. Kaba ini sama dengan hikayat dalam sastra indonesia lama. Kaba tergolong sastra lisan (oral literature), suatu karya sastra yang disampaikan secara lisan dengan didendangkan atau dilagukan.
            Kaba berfungsi sebagai hiburan perlipur lara dan sebagai nasihat, pendidikan moral yang mengisahkan peristiwa yang menyedihkan, pengembaraan, dan penderitaan, kemudian berakhir dengan kebahagiaan.

C. Jenis adat di Minangkabau
Adat Minang mencakup suatu spektrum dari yang paling umum hingga yang paling khusus, dari yang paling permanen dan tetap hingga yang paling mercurial dan sering berubah-ubah, bahkan ad-hoc. Di sini adat Minang disebut Adat nan Ampek.
1)      Adat nan Sabana Adat, adat yang paling stabil dan umum, dan sebenarnya berlaku bukan hanya di Minangkabau saja, melainkan di seluruh alam semesta ini. Disepakati bahwa adat yang sebenarnya adat adalah Hukum Alam atau Sunnatullah, dan Hukum Allah yang tertuang di dalam ajaran Islam. Dengan mengambil Alam takambang menjadi guru adat Minang dapat menjamin kompatibilitasnya untuk segala zaman dan dengan demikian menjaga kelangsungannya di hadapan budaya asing yang melanda. Masuknya agama Islam ke Minangkabau, juga telah melengkapi Adat Minang itu menjadi kesatuan yang mencakup unsur duniawi dan unsur transedental.

2) Adat nan Teradat adalah peraturan yang dibuat dengan kata mufakat oleh ninik mamak Pemangku adat dalam satu-satu negari guna untuk merealisir peraturan pokok dari adat Minangkabauyakni adat yang Diadatkan, dimana peraturan pelaksanaan ini senantiasa disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat selama tidak bertentangan dengan peraturan pokok.

3) Adat nan Diadatkan. Adat Minang menjadi adat Minang adalah karena suatu identitas dengan kesatuan etnis dan wilayah : adat Minang adalah adat yang diadatkan oleh Orang Minang, di Minangkabau. Jadi adat Minang itu sama di seluruh Minangkabau, dan setiap orang Minang be dan leluasa membuat penyesuaian-penyesuaian, maka adat itu akan bertahan dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya akan sense of order. Tidak ada unsur paksaan yang akan terasa jika adat itu monolitik dan seragam di seluruh wilayah.

4). Adat Istiadat ialah adat yang terjadi dengan sendirinya karena interaksi antar anggota masyarakat dan antar anggota masyarakat dengan dunia luar. Dinamakan juga adat sepanjang jalan yang datang dan pergi, dan ditolerir selama tidak melanggar adat yang tiga di atas. Pengakuan akan adanya adat-sitiadat ini menjadikan adat Minang lebih komplit dan memberi ruang bagi anggota masyarakat untuk bereksperimen dengan hal-hal baru dan memperkaya budayanya.
Empat macam adat diatas adalah adat Minang semuanya dan menjadi suatu kesatuan yang utuh. Keempatnya tidak dapat dipisahkan, dan tidak dapat dikatakan adat Minang kalau kurang salah satu: Bukanlah adat Minang jika hanya terfokus pada adat istiadat akan tetapi melawan Hukum Alam. Dan buknlah pula adat Minang jika hanya berbicara tentang pengangkatan Penghulu, tetapi tidak memberi ruang untuk berlakunya adat istiadat yang dipakai oleh orang kebanyakan.